Posting Hari ini
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Bank-Asuransi Gagal Diatur RUU JPSK

Fuad Rahmany (inilah.com)
SUARAPUBLIC.co.cc, Jakarta - Protokoler pengaturan manajemen bank dan asuransi gagal juga akan masuk dalam Rancangan Undang-undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (RUU JPSK).

"Ada bank dan asuransi gagal karena krisis maka diatur dalam RUU JPSK," ujar Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany, Sabtu (3/7).

Pilar jaring pengaman sistem keuangan terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, LPS dan FSSK. Pilar jaring pengaman sistem keuangan ini diberlakukan dalam kondisi krisis. Fuad menuturkan, bila bank gagal tidak berdampak sistemik maka keputusan bank tersebut akan ditutup ada di tangan OJK.

Sehingga ke depan ada paket JPSK dan OJK. "Kalau OJK bicara dengan tanggung jawab. Fungsi pengawasan dan pengaturan di OJK dan kalau ada bank sistemik mempunyai dampak ekonomi lebih besar akan dibawa ke forum lebih besar," tambah Fuad.

Saat ini pihaknya sedang menggarap Rancangan Undang-undang OJK. RUU OJK tersebut telah berada di tangan DPR dan diharapkan OJK dapat berdiri pada akhir 2010. (sumber : inilah.com)

Berita lainya:
------------------



Berita Utama:
-------------------







--------------------------------------------------------------------------------------------


---------------
0 komentar

HSBC Gandeng Sekolahan


SUARAPUBLIC - Perbankan semakin gencar menggarap bisnis pengelolaan dana perusahaan alias cash management. Salah satunya Bank HSBC.

Tahun lalu, nilai dana pihak ketiga (DPK) HSBC dari cash management naik 29%. Adapun fee based income HSBC melonjak 41%. "Potensi bisnis ini sangat besar," kata Herani Hermawan, SVP Head of Sales Global Payment and Cash Management HSBC kepada Pers

Dijelaskan HSBC telah lama menyasar sekolah – sekolah untuk bisnis tersebut. Sekolah yang di gaet meliputi sekolah tambang, Telekomunikasi dan yang lainya.
0 komentar

Ekspor Indonesia US$103,15 miliar


SUARAPUBLIC - Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan bahwa nilai eksfor Indonesia pada November 2009 mengalami penurunan. Pada November 2009 nilai eksfor mencapai US$10,76 miliar atau mengalami penurunan sebesar 12,12 persen dibanding ekspor Oktober 2009. Sedangkan, bila dibanding November 2008 mengalami peningkatan sebesar 11,31 persen.


"Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-November 2009 mencapai US$103,15 miliar atau menurun 19,50 persen dibanding periode yang sama tahun 2008," ujar kepada Pers di Jakarta Senin (4/1).


Rusman menjelaskan Ekspor nonmigas November 2009 mencapai US$8,43 miliar, turun 16,82 persen dibanding Oktober 2009, sedangkan dibanding ekspor November 2008 meningkat 2,51 persen.  
0 komentar

CNKO Restrukturisasi Utang Rp 77 Miliar

JAKARTA-Demi mengembangkan tiga proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kalimantan, PT Central Korporindo Internasional Tbk (CNKO) kini terjepit pembayaran utang.

Demi menutupi anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 444,973 miliar, CNKO menggalang dana pinjaman Rp 73 miliar dari PT Bank BNI Tbk (BBNI) dan penjualan 77% saham ke publik.

Celakanya, pinjaman ini telah jatuh tempo dan CNKO telah memasuki grace period pada Januari 2010 nanti. Presiden Direktur CNKO Erry Indriyana menyatakan, sedianya CNKO berencana mencicil utang itu dari hasil penjualan batubara ke Pangkalanbun.

Mereka berharap, penjualan itu bisa menambah kocek mereka sedikitnya Rp 45 miliar per tahun.

Tapi apa lacur jika proyek Pangkalan Bun mengalami kemacetan teknis dan tertunda beroperasi hingga pertengahan tahun depan. "Jadi Januari nanti, kami berniat mengajukan restrukturisasi utang ke Bank BNI," kata dia.

Sebelumnya, CNKO berencana menguras seluruh dana hasil right issue mereka di tahun 2003 sebesar Rp 321,97 miliar untuk modal kerja ketiga proyek tersebut.

Namun Sekretaris Perusahaan CNKO Jafar Chan menyatakan, melambungnya harga bahan bakar minyak dari Rp 2.400 per liter menjadi Rp 4.500 per liter mengakibatkan capex mereka kian melonjak.Walhasil, CNKO pun kepepet meminjam uang kepada Bank BNI.

"Itupun capex kami sebenarnya masih kurang Rp 50 miliar lagi," kata Jafar. Menurutnya, kekurangan ini akan diambil dari kas internal dengan dicicil.

Sekadar diketahui, penjualan CNKO hingga akhir tahun ini diprediksi mencapai Rp 280 miliar-300 miliar. Perusahaan batubara ini pun memperkirakan, bisa menangguk laba bersih Rp 3 miliar.

Pada tahun depan, CNKO menargetkan penjualan Rp 400 miliar-Rp 450 miliar dengan laba bersih meningkat 15% menjadi Rp 3,45 miliar.
0 komentar
|
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. LINTAS GLOBAL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger